BBM Naik, Kenapa tidak ?
Sany Asyari| May 1, 2008 12:49 pmTahun 2008 ini terjadi resersi pada negara USA mengakibatkan harga minyak dunia naik hingga mencapai 120 USD. Indonesia yang menjadi salah satu mantan anggota opec harus menggigit jari karena tidak bisa menikmati harga yang munjulang tinggi. Hal ini terjadi karena Indonesia bukan menjadi negara peng Export, tetapi menjadi negara Import minyak terbesar di dunia.
Saya sempat berdebat dengan orang tua saya pada perjalanan pulang kemaren. Ditengah hiruk pikuk jalan raya saya pun harus mengisi bensin di Pertamina dan menikmati subsidi BBM yang relatif besar. Pada saat pengisian BBM tidak ada antrian yang mengular pada antrian mobil, tetapi antrian terjadi pada pengendara motor.
Dalam debat tersebut orang tua saya memberikan beberapa saran yang mungkin cukup membantu, seperti kembali ke jaman orde baru bensin diberikan subsidi besar dari hutang negara Indonesia yang tidak ada habisnya, Optimalisasi minyak dari bumi sendiri dengan cara produksi Indonesia oleh pertamina lebih jamak ke Negara sendiri, baru jika kita ada surplus maka kita dapat melakukan export kepada negara lain.
Kenapa hal-hal diatas tidak direalisasikan ? Ada beberapa yang kita harus pertimbangkan, seperti namanya inflasi Indonesia yang besar dan juga minyak Indonesia merupakan minyak yang bagus, sehingga jika dijual kepada negara lain jauh lebih mahal dan kita bisa mendapatkan keuntungan yang besar jika kita melakukan subsidi silang dengan minyak murah untuk kebutuhan harian kita.
Tapi kembali lagi dengan apa dan siapa yang menggunakan BBM tersebut. Mungkin kita tidak menyadari secara langsung bahwa Indonesia ini termasuk negara yang sangat makmur bagi pengusaha kecil dan menengah (kurang lebih modal dasar dibawah 10 miliar) dengan mendapatkan subsidi yang sangat besar dan kita tidak mengetahui hal tersebut. Kenapa hal ini dilakukan oleh pemerintah ? Karena dengan adanya subsidi yang besar kepada pengusaha maka perekonomian Indonesia sedikit demi sedikit akan naik. Hal ini bisa kita lihat dengan subsidi solar yang sangat besar, subsidi bensin hingga awal buka usaha dengan perhitungan dianggap merugi perhitungan akutansi mengenai penurunan nilai barang sehingga tidak akan dikenakan pajak.
Dengan banyaknya pengusaha saat ini mengakibatkan pula dengan semakin besarnya subsidi pemerintah. Hal ini tidak hanya karena pengusaha yang banyak. Karena juga dengan semakin baiknya kehidupan karyawan, keluarga semakin tinggi pula kebutuhan mereka. Dulu mereka rela naik kereta ekonomi dan sumpek-sumpekan di bus umum sekarang minimal orang lebih mementingkan egoisme dengan jalan dan berhenti seenaknya tanpa memberikan tanda sen pada motor mereka dan tidur dan membaca koran di mobil pribadi yang disupiri oleh pak supir.
Nah mungkin kita tidak sadar saat ini kita sering dibakar emosi dan pola pikir kita oleh masyarakat Elite Politik Indonesia. Kita masyarakat menengah atas yang sudah terbiasa hidup disuapi oleh negara tidak rela jika mereka merogoh uang lebih dalam. Makanya itu saat ini mereka pengusaha yang mayoritas masuk club wakil rakyat mengompori banyak orang untuk menghalangi presiden kita dalam menaikkan BBM.
Selain itu tujuan mereka juga untuk persiapan pemilu 2009, coba kita lihat banyak orang partai muncul di TV, baik dari cara IKLAN yang unjuk gigi nama Individual, hingga dengan cara menjatuhkan sesama anggota Partai yang memperlihatkan bahwa taring saya masih tajam walaupun tanpa mata.
Kalau sebagai calon atau anda seorang pemimpin rakyat, anda harus tegas, anda harus berani untuk hidup susah. Mungkin anda berteriak-teriak dan memanasi mahasiswa sekarang yang masih berbaru celana abu-abu bahwa BBM akan naik, tapi anda bisa mengadakan pesta pernikanan anak, saudara, cicit hingga ribuan undangan. Mungkin anda bisa naik ojek ke kantor club wakil rakyat tapi anda membayar Rp. 5 JT untuk sekali naik ojek. Itu bukan solusi untuk masyarakat Indonesia.
Kalau kita lihat ke daerah, masyarakat daerah jauh hidup lebih makmur, mereka dapat makan 4 X sehari, dengan lauk yang sangat layak. Mereka tidak memusingkan BBM mau naik atau tidak karena mereka bekerja dengan kendaraan tanpa BBM yaitu Kaki dan Sepeda mereka.
Tags: indonesia
Categories: Tip and Trik















Sudah saatnya, kita berpikir secara integral dan holistik. Perbedaan pendapat akan menunjukkan kualitasnya jika kita mampu berpikir secara menyeluruh dan menyatu.
Perbedaan pendapat yang dilandasi cara berpikir yang setengah2 dan parsial tidak akan banyak memberikan manfaat dan sulit melahirkan solusi yang tepat
Kalo kita membandingkan dengan Venezuela dengan harga BBM murahnya, maka yang terjadi adalah perkembangan pembangunan kita juga akan seperti Venezuela, Mau???
Mengapa???
Lha……, belanja negara banyak terkuras hanya untuk kebutuhan pemenuhan subsidi BBM.
Bagaimana untuk memajukan pendidikan yang tertinggal dg Malaysia yang harga BBMnya di atas 10.000 (padahal Malaysia net exporter, Indonesia sudah menjadi net importer). Malaysia mampu meningkatan kualias pendidikannya karena mampu membiayai pendidikan dg jauh lebih baik dan membuat para guru mampu meningkatkan profesionalismenya karena punya biaya yang cukup untuk itu.
Lihatlah indikator kemajuan dari negara2 yang sukses menjadi negara maju, pengelolaan belanja negara yang produktif akan mampu menjadi leverage (pengungkit) bagi peningkatan pembangunan negara secara signifikan
Jadi sebagai mahasiswa atau rakyat jangat beripikir serakah….
Maunya segalanya dituruti…..
BBM Murah….
Pendidikan murah bahkan gratis….
Rakyat tidak mampu mendapatkan jaminan standar (kesehatan, dll)…..
Bebas penyakit….
Bebas gizi buruk …..
Jalan tidak berlubang……
Trus, pikirlah dg jernih…. Darimana negara mampu membiayai seluruh keinginan itu???. Maka negara perlu uang (pendapatan)
Sehingga APBN harus mencerminkan rencana strategi pemerintah untuk mengalokasikan pendapatan dan belanja yang produktif
Kalo Anda tidak mengerti makna belanja produktif, jangan banyak berkomentar tentang kenaikan BBM yang akhirnya menyesatkan cara berpikir banyak orang…..
Belanja disebut produktif jika belanja mampu menghasilkan dan meningkatkan manfaat yang berlipat2 dan terukur jelas, sebagaimana yang sudah dicapai oleh negara2 yang terbukti sudah maju
Anda ingin negara kita maju, tapi perilaku APBN kita anda paksa seperti perilaku APBN negara terbelakang, gimana bisa???….
Tidak setuju kenaikan BBM karena memicu inflasi tinggi (akhirnya meyusahkan rakyat) ????
Itulah konsekuensi dari sebuah pilihan. Tetapi apakah permasalahan itu kemudian menyebabkan kita salah memilih kebijakan yang akhirnya bahkan akan menyengsaran rakyat selama berabad2. mengapa???
Lah iya, wong pendidikan ya akan begini2 saja, jaminan pada oang tidak mampu ya sekedarnya, penyakit menjangkit dimana2, kematian ibu melahirkan sangat tinggi, akses kesehatan bagi orang miskin susah didapat, gizi buruk terjadi dimana2, dan lain-lain. Kita ngap bisa berbuat banyak karena nggak punya banyak uang bro….
Inflasi tinggi itu (kalo tidak terjadi secara beruntun dan dalam waktu yang singkat) maka tidak akan banyak menimbulkan persoalan (tidak terlalu merisaukan). Permasalahan (kerisauan) hanya terjadi di awal saja, asalkan pemerintah juga mampu me-manage inflasi itu dg baik.
Setelah inflasi tinggi, asalkan tidak ada faktor pemicu inflasi yang lainnya termasuk unsur ketidakpastan ekonomi (bisa disebabkan ketidakpastian keamanan, seperti demo yang anarkis), maka inflasi akan teredam dg sendirinya apalagi kalo dikombinasikan dg kebijakan pemerintah untuk meredam inflasi.
Mekanisme pasar juga akan bergerak dg sendirinya mengikuti besaran inflasi.
Pedagang di pasar juga akan menaikkan harga jualnya, sehingga pendapatannya naik….
Gaji pegawai negari sudah sejak dulu di awal pemerintahan ini dinaikkan hingga 100%, misal untuk freshworker dari 750 rb menjadi 1,5 juta…
Memang masih ada permasalahan dg penduduk berpendapatan tetap, tapi itulah masalah yang masih harus kita hadapi….
Tetapi perlu dicatat juga bahwa Perusahaan juga akan menaikkan harga jual produknya sehingga ada konsekuensi nantinya upah buruh juga harus dinaikkan…..
Hal ini membuktikan bahwa pendapatan tetap pun akhirnya akan dapat disesuaikan dan melakukan penyesuaian, tetapi memang lebih butuh waktu….
Intinya adalah untuk setiap kejadian inflasi maka mekanisme pasar akan bergerak dan mampu mengkondisikan perekonomian kembali pada posisi kesetimbangan pada akhirnya….
Yang dirasakan sekarang adalah kesusahan akibat inflasi yang tinggi itu, maka bersabarlah. Rasa sakit Itu adalah konsekuensi dari pilihan terbaik ini untuk menghindarkan kita dari kesengsaraan yang bisa saja berlangsung dan berlanjut selama berabad2 yang akan datang, yang akan kita sesali sebagaimana kita menyesali misalnya mengapa kita tertinggal dari Malaysia sampai saat ini
Jadi jangan sampai Anda semakin menyusahkan rakyat yang sudah susah dengan demo yang anarkis….
Cukup itu dulu dari saya ya……