Google
Sany Asyari Blog - Indonesia

Kenapa Pendidikan Indonesia Nol Besar ?

Sany Asyari| November 23, 2007 11:29 am

Sedih dihati ketika melihat mahasiswa Atma jaya memukuli Press dari detik.com dan hal ini bisa dilihat dari betapa rejim kekerasan masih mendarah daging dan mengalir dengan deras didalam darah mahasiswa sekarang ini. Memang sosok kekerasan masih tetap terjadi di system pendidikan kita.  Tapi ini entah siapa yang membuat, apakah masalah regulasi dan birokrasi atau karena uang haram yang mendidik mereka sehingga uang panas itu mengalir di darah mereka.

gazper.jpgBerbicara tentang kekerasan bisa kita lihat di detik.com masalah geng gazper yang terjadi pada SMU 34  Jakarta suatu hal momok yang baru ketawan ketika sosok orang tua berani mempermasalahkan masalah ini kepengadilan.  Kebetulan sayapun angkatan 2000 dan kalau diingat dulu pada waktu sekolah saya juga memiliki beberapa kawan di SMU 34 dan menjadi anggota geng gazper ini. Nah dulu biasa anak muda kalau malam masih nongrong di sekolah, teman-teman dari 34 sering datang abis dari tauran. Mereka dengan kondisi ngos-ngosan alias abis lari (melarikan diri) karena kalah dalam jumlah. Mendengarnya sangat seru. Pada waktu menjadi seniorpun menekan junior yang dilakukan oleh kawan-kawan saya sangatlah lucu dan menarik. Seperti waktu itu ada artis muda yang sekolah membawa mobil kodok baru yah jelas donk membuat iri semua orang. Eh diculiklah tuh artis dan berhubung dia sepupu dari teman nongrong cuman dibentak-bentak dan disuruh nyanyi. Saya pribadipun tidak menyukai kata perbedaan SENIOR – JUNIOR, beberapa orang sering salah mendefenisikan kata tersebut sehingga mereka acap kali melakukan penilaian yang salah.

Nah kekerasan kampus seperti UKI – UBK yang masih sering terjadipun mereka akhirnya temu maya di blog ini. Mereka saling mengaku dari salah satu kampus tersebut dan saling mengolok-olokan. Pertanyaannya apakah mereka itu benar-benar mahasiswa tersebut atau hanya seorang profokator yang ingin memanaskan suasana (Kompor Kalii)…

Nah ketika memasuki kuliah (berhubung masuk ke angkatan 4 (2001)) langsung deh buat regulasi bahwa tidak ada sistem senoritas pada jurusan TI. Waktu itu saya mendiskusikan bersama singgih yang anak Somoza 70 yang diapun merasa bosan dan jenuh dengan melakukan penekanan pada junior. Maka pada waktu itu kita sangat akrab dengan angkatan 2000, 1999 dan 1998. Selain antar angkatan pertemanan dengan beda jurusan pun sangatlah kuat mengingat jumlah mahasiswa yang terbatas dan juga pola pikir caknur yang bebas.

Memang pada saat memasuki masa kuliah sangat berbeda dengan masa SMU yang dimana masa SMU semua terbatas sekarang menjadi tanpa batas dan tanpa tekanan dari mana saja dan yang ada hanyalah tanggu jawab semata.  Beberapa kawan banyak yang setelah lulus dan tidak bisa mengendalikan diri mereka masuk kelubang kegelapan. Misalkan sebutlah sosok inisial L yang pada waktu awal masuk kuliah dia hanyalah mahasiswa biasa. Kemudian dia mengenal judi (memang dari SMU dia suka berjudi) dan menghasilkan 2 mobil pada 2 sesi pertandingan bola dunia. Nah biasanya cowo itu pasti punya donk pacar, yang lokasi rumahnya lumayan jauh di Jakarta coret dikit (bekasi sono dikit) yang noteben jauh berbeda dengan sosok cowo ini dia seorang wanita yang alim dan suci. Singkat cerita nih cewe engga tahan sama kelakuan cowonya dan putuslah mereka. Setelah itu nih cowo murka dan belajar dari forum besar Indonesia maka dia masuklah ke forum Underground pencinta wanita.  Walaupun dia sudah diluluskan dari kampusnya tetap hal ini menjadi suatu pertanyaan kesalahan itu datang dari mana.

Permasalahan ini sebenarnya datang dari mana ? apakah dari departemen kependidikan atau orang tua dipihak dirinya. Cerita lagi nih.. Dulu sempat kerja di percetakan buku yang membawa gambar gajah duduk. Nah ngobrol-ngobrol deh sama staf marketing project menanyakan project BOS pendidikan ada yang minta uang panasnya engga ? Wah dia jawab: Gini san saya juga bingung sama staf disana buku ini khan bisa di diskon hingga 60 % dari harga buku dipasaran nah si petugasnya itu bilang udah diskon aja 40 % entar 20 % nya transfer ke saya ya. Nah lo kok bisa?, Ya bisa lah san emank dikantor lo engga pernah denger bunyi telpon tuh yang nanyain Marketing? Itu sebagian besar mereka telpon minta jatah 20 % nya tuh.. 

Nah tidak kebayang hal ini masih terjadi.. Gimana kalau uang itu dimakan olehkeluarga merek? Apa efek sampingnya ? Jujur ya saya banyak kenalan yang keluarga mereka (anak sampai ke cicit) HANCUR karena uang Korupsi itu. Bahkan hidupnya sudah bisa terlihat memprihatinkan. Mungkin ketika mereka bersosialisasi hal ini tidak akan terlihat, karena mereka memiliki gensi yang besar.. Tapi secara ekonomi mereka hancur berantakan. Mungkin jika BI memiliki data bisa dilihat dari jumlah harta kekayaan dan hutang mereka yang tidak sebanding.

Tapi ini hidup yang harus kita jalani dan kita tanggung jawabkan kepada yang diatas. Walaupun orang tuamu sudah tidak ada (baik Ayah, Ibu bahkan keduanya) dan tidak bisa membantu dan melihat hidup kita bagaimana dan mereka sudah menyediakan harta yang berlimpah tetapi kita hanya bisa membawa kehidupan yang maksiat dan hina akan membuat menambah penderitaan orang tua kita baik yang masih hidup dan sudah tiada. Untuk itu marilah menjalani hidup dengan aliran yang ada.

2 Comments

  • At 2009.10.16 11:56, Asyikin said:

    Salam kenal,

    Artikelnya sangat bagus, mari bergabung di forum “Solution Exchange Indonesia” untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam bidang pengembangan pendidikan. Silahkan sign up di : http://www.solutionexchange.or.id

    Terima kasih & salam

    Asyikin

    • At 2009.10.17 15:36, osa said:

      kenapa didalam pendidikan di indonesia masih sering terjadi kekerasan?

      (Required)
      (Required, will not be published)
      Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes