IPDN dan Premanisme “Pejabat” di Jakarta
Sany Asyari| April 9, 2007 8:53 amSumber gambar : http://rony.dgworks.net/
Terkadang sempat berfikir kenapa yah negeri ini selalu menggunakan ilmu premanisme untuk pendidikan. IPDN menurut Fahmi IPDN adalah merupakan singkatan dari Institute Preman Dalam Negeri. Memang jika kita telusuri dengan seksama kejadian seperti ini tidak sekali terjadi di Indonesia. Menurut kawan Roni Jika seseorang ingin menjadi camat ya harus sekolah disini. Kalau semua camat Indonesia lulusan IPDN atau nama terdahulunya adalah ISPDN bisa-bisa semua orang penting bisa bermoral premanisme. Tapi hal ini memang sudah terjadi..
Bagaimana premanisme terjadi di lurah atau camat? Jika kita perhatikan hal ini terimbas langsung kepada masyarakat kecil di Jakarta. Berdasarkan wawancara langsung dengan para pedagang kaki lima di daerah Kebayoran baru mereka setiap minggu harus membayar lapak mereka sebesar Rp. 50.000 dan itupun belum termasuk dari pemerasan para Satpol PP berupa meminta rokok 1 bungkus setiap beberapa jam.
Para pemalak ini terlihat dengan jelas menggunakan pakaian dinas pemerintah jakarta dan membawa buku serta mengatakan bahwa mereka adalah petugas kelurahan yang ditugaskan untuk meminta uang keamanan pada para pedagang kaki lima di sekitar Kebayoran Baru. Walaupun kondisi ini berjalan secara terselubung mereka terkadang suka malu untuk meminta jika banyaknya pengunjung di pedagang tersebut. Biasanya diawali dengan basa-basi tetapi para pedagang itu pun mengerti maksud dan tujuan bapak berbaju dinas pemerintah jakarta tersebut.
Berikut ini perhitungan mingguan yang pedagang yang dirugikan oleh petugas tersebut:
Asumsi Pedagang kaki lima di Mesjid kebayoran baru ini terdapat 50 Pedagang
50 X Rp.50.000 = Rp 2.500.000.
Pemalakan Rokok 3 Kali sehari
Rp. 9000 X 3 kali X 7 Hari X 5 Warung Rokok = Rp 945.000
Berarti jika dihitung Total para pedagang kaki lima yang harus dikeluarkan dalam seminggu adalah
Rp. 2.500.000 + Rp. 945.000 = Rp. 3.445.000
Berarti dalam 1 Bulan pedagang kaki lima di sekitar Mesjid daerah Kebayoran baru harus kehilangan Minimal Rp. 13.780.000.- Nilai yang sangat besar bagi semua golongan masyarakat manapu dimuka Indonesia dan kondisi ini baru terjadi disuatu sebagian kecil zone di Jakarta serta uang tersebut tidak masuk ke Kas daearah maupun negara Indonesia. Sampai kapan Indonesia harus dibawa dengan kondisi Korupsi serta premanisme seperti ini? Semoga saja Reformasi ini dapat menghilangkan tindakan premanisme yang masih mendarah daging di masyarakat Indonesia.
Regards,
Categories: Umum, Unik dan Aneh
7 Comments »




nahhhhhhhhh….ini boroknya sistem pemerintahan kayak gini ditutup-tutupin akhirnya ketahuan juga sama media habis itu kalang kabut dah…kira2 hal yang lebih besar dari ini ada ngga yaa ?? kalo ada berupa apa berita atau konflik politik ?? apakah sistem ini sama seperti pemerintahan yang dulu ??
Ngapain sihh ada IPDN?? kenapa ga di perdayakan mahasiswa2 UI,ITB, dll.. boros2 anggaran aja utk ngidupin tuh skolah.. gmana mw bener neh negara klo para pengabdi masyarakatnya di didik dgn cara militer..mending tuh yaa praja2 senior yg suka gebukin juniornya di kirim ke papua bwt nyari para OPM..
Entah apa yang ada dipikiran para aparat pemerintah kita, mungkin betul kata Kolumnis Budhiarto Shambazy bahwa kita adalan “Insane Society“, masyarakat tak waras, yang pandai memutarbalikkan kebodohan menjadi kecerdasan, kekerasan menjadi disiplin, dan kebenaran menjadi sampah, sementara kebohongan menjadi barang manis….
Luar biasa, para praja yang menjadi TERPIDANA pembunuhan Praja STPDN Wahyu Hidayat di tahun 2003 itu rupanya belum pernah me’nikmati’ eksekusi dari pengadilan, walau proses hukum mereka sudah selesai sejak 2005 lalu yang menghasilkan keputusan pengadilan Tinggi Bandung; masing2 (HANYA) 10 bulan penjara . Bahkan Mahkamah Agung sudah menolak kasasi yang mereka ajukan. Tapi BERUNTUNGLAH praja-praja pembunuh itu, status sosialnya membuat mereka diBOLEHKAN untuk menyelesaikan study di STPDN, walau dulu secara seremonial dinyatakan DIPECAT dari pendidikan. Bahkan mereka dijadikan PNS di lingkungan Pemerintahan Kota Bandung dan Sumedang. Mereka JAUH lebih BERUNTUNG dari maling ayam, maling motor, koruptor teri, dll yang langsung diBUI ketika mulai diadili, dan hukumannya bisa lebih dari SETAHUN!!.
Empat dari terpidana itu; Bangun Robinson, Bennarekha Fibrianto, Oktaviano Santoso, dan hendi Setiadi menikmati indahnya menjadi PNS di Pemkot Bandung. Terus dua lainnya menjadi pegawai Pemda Sumedang. Enak nian, sudah membunuh praja, dipecat, diadili, divonis, tapi bisa kembali kuliah, diangkat jadi PNS dan melupakan ‘kejahatan’ nya di tahun 2003 ketika dengan arogannya membantai Wahyu Hidayat!
Memang insitusi sombong itu perlu dibubarkan, senasib dengan rektornya yang dinon aktifkan. Beberapa pemerintah daerah seperti beberapa kabupaten di Prop Kaltim juga sudah bertekad untuk MENOLAK lulusan IPDN itu, terkait budaya kekerasan yang dipraktekkan. Daerah lain seperti Papua mengajukan untuk memiliki sistem dan sekolah IPDN sendiri. Jawa tengah sudah keberatan untuk membiayai IPDN.
Seperti kata Tosari Wijaya, anggota DPR dari FPPP, IPDN hanya menghasilkan Drakula yang berseragam. Sadis.
Thread detik.com beritanya:
- Aneh, 8 penganiaya Wahyu Hidayat belum dieksekusi
- 4 Penganiaya Praja Wahyu Hidayat bekerja di Pemkot Bandung
- 2 Penganiaya Praja Wahyu Hidayat bekerja di Pemda Sumeda
ih… mending duit bwt IPDN di kasih ke orang miskin daripada ngebiayain para pembunuh
IPDN,,,,, ga bangedh de..
kenapa yak?????
aku pikir,beda aja hasil didikan IPDN ma hasil didikan kampus di luar,,,,
anak ipdn didik untuk mandiri, kakak aku dari IPDN,,,dia memang suka cerita ma aku tentang kehidupannya di IPDN yang keras,,,,aku jadi suka khawatir,,,, dia ngak pernah cerita sama papa mama tentang apa yang terjadi sama dia,,,,,
hasilnya jujur aja,,,dia lebih sopan, lebih rapi,,,,walaupun nampaknya agak idealis,,,tapi beda aja ama teman-temannya yang lain,,,cara bicaranya,,,,bukan “anak mahasiswa biasa yang didik ele-ele.
mahasiswa biasa dalam kampus bisa bolos,,,mereka udah ngak bisa sangsi bolos paling besar adalah ngak bisa pesiar, sampai wajib kurfei…..
bagi akau kakakku dan sekolahnya adalah hal yang luar biasa
mereka dididik untuk menghadapi dunia yang makin kejam,,,,
walaupun mereka di caci mereka ngak pernah membalas cacian orang…meraka yang aku temui cuma bilang hannya kita dan Tuhan yang tau,,,dan hannya Tuhan yang mampu goyahkan kita….
itu membuktikan
ngak semua anak IPDN punya dosa
dan mereka masih percaya akan TUHAN
betul kata ngie………..
semua manusia itu relatif punya kesalahan….
bukan hanya ipdn…….universitas lain juga pernah tauran……..pukul memukul…..
bedanya gak diekspose ampe publik jeli ngeliatnya………….
ipdn bisa dibilang sekolah artis….dimana2 dibicarain yang jeleknya….padahal menyimpan sejuta kader yang akan membangun negeri ini menjadi lebih baik n lebih maju untuk mengayom masyarakat…
so……karena ipdn sekolah yang ajang biaya negara n dah pns pula………jadi bisa jadi ipdn masuk kategori universitas yang dicintai masyarakat….
mo tau buktinya???
musti 1 taun gak buka rekrut praja….ditahun berikutnya?????bejibun……yang mati2an dg sgala cara untuk masuk ipdn….
lulusan ipdn….sangat disegani oleh kalangan atas sampai kalangan bwh…karena disiplin na…loyalitas na….performens na….kinerja na…..sangat bagus dan berkompeten u pemimpin daerah….
trus solidaritas antar almamaternya itu loh…korpsnya nyatu bgt…..
trus dengan kejadian kematian akibat oknum tertentu…jangan dijadikan kita untuk menutup mata bahwa itu kelakuan semua praja….
aku cinta ma ipdn…….